Berawal sekitar satu tahun yang lalu, saya merasakan hal yang aneh dengan gigi saya. Beberapa hari terasa bengkak dan teramat sakit sampai susah makan. Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, sakit itu mereda, namun ada sesuatu yang tumbuh dan semakin lama semakin terlihat bahwa itu gigi geraham. waktu itu saya langsung browsing tentang kesehatan gigi, dan saya juga mencoba bertanya pada suatu halaman web. Dari situlah saya mengenal istilah gigi bungsu dan beberapa efek yang ditimbulkannya.
Pada waktu itu untunglah saya juga punya kenalan dokter co as. Dan saat itu saya juga akan menjalani perawatan gigi yang lain (gigi jembatan). Dokter saya pun menyarankan untuk foto rontgen (panoramic) dan ternyata benar dua gigi bungsu bawah saya dalam keadaan miring dan harus diambil agar tidak merusak gigi lainnya. Setelah dijelaskan prosesnya dan jadwalpun juga sudah ditentukan. Namun waktu itu dokter saya hanya bisa mengambil satu gigi impaksi, yaitu gigi bungsu didekat gigi yang akan dipasang gigi jembatan dan kondisi dari gigi bungsunya masih didalam gusi. Operasi pun dimulai (waktu itu saya operasi awal-awal bulan januari 2015), karena hanya satu gigi jadi hanya dibius/anestesi lokal. Pada dasarnya saya orang yang takut dengan jarum suntik, padahal anestesi tersebut memakai jarum suntik dan efeknya dari obat anestesi berjalan agak lambat karena dipengaruhi oleh rasa takut saya. Sebelum dianestesi, tekanan darah saya diperiksa, namun waktu itu saya sedang datang bulan juga jadi tekanan darah saya sedikit dibawah normal. Oya sebelum operasi saya juga disarankan untuk sarapan, karena 1 jam pasca operasi tidak boleh makan.
Karena hanya dianestesi lokal, saat operasi berlangsung saya pun masih sadar dan bisa mendengar aktivitas para dokter tapi untungnya mata saya ditutup kain (kalo tidak, mungkin nyali saya sudah ciut merasa ngeri sendiri melihat peralatan yang masuk kedalam mulut saya). Selama kurang lebih 2 jam, operasi pun selesai. Saya dikasih lihat bentuk gigi saya, ternyata harus dipotong jadi dua karena giginya terlalu miring. Selesai operasi saya diberi obat dan dijelaskan kalau beberapa hari akan mengalami bengkak. Dan juga seminggu lagi diminta untuk control.
Keluar dari rumah sakit, saya menuju parkiran mengambil sepeda dan pulang (karena waktu itu saya berangkat kerumah sakit sendirian). Beberapa kilometer pertama saya tidak merasakan sakit yang berarti karena masih dibawah pengaruh anestesi, namun beberapa saat kemudian barulah terasa seperti hampir mau pingsan rasanya, karena memang pas saya pulang hampir jam 1 siang dan pas panas-panasnya saya harus bersepeda (gowes) pulang ke kosan. Alhamdulillah akhirnya saya sampai juga dengan selamat. Hahaha, bisa dibilang nekat juga sih kalo inget waktu itu.
Lalu keesokan harinya setelah operasi itu, saya dan teman-teman pergi ke Banyuwangi. Harusnya sih istirahat biar cepat pulih, tapi karena sudah terlanjur pesan tiket dan kapan lagi bisa liburan bareng temen-temen. Saya pikir juga toh dalam perjalanan saya bisa istirahat. Teman-teman yang lain pun menanyakan keanehan pada pipi saya yang mulai bengkak, saya pun menceritakan pada mereka. Dan benar saja saat saya ke toilet kereta, saya melihat sendiri pipi saya yang mulai bengkak (mirip tokoh kartun sinchan hahaha) tapi saya tetep pede aja… sampai di Banyuwangi langsung ke tempat wisata yang sudah kita tentukan, dengan keadaan saya waktu itu saya tetap semangat (namanya juga liburan ya harus seneng). Akhirnya bengkak saya mulai berangsur mengecil setelah hari kedua di banyuwangi (tepatnya setelah muncak dari gunung ijen). Bener-bener pengalaman yang tidak patut dicontoh hahaha, harusnya istirahat setelah operasi ini malah maen-maen. Tepat satu minggu kemudian saya balik lagi kerumah sakit, bertemu dokter saya dan ditanyai ini itu. Kata dokter lukanya sudah nutup dengan bagus dan dokterpun melepas jahitannya. Saya pun disuruh pulang.
Masalah gigi bungsu yang satu sudah mulai terselesaikan…
Beberapa bulan kemudian keresahan akan gigi bungsu saya yang lain terjadi lagi. Gigi bungsu yang waktu itu sudah sempat tumbuh terkadang menimbulkan masalah nyeri yang terkadang sangat sakit hingga kepala terasa pusing. Akhirnya setelah lebaran (bulan juli 2015) saya konsultasi dengan dokter gigi saya yang ada di kampung halaman (kali ini saya memanfaatkan fasilitas dari kartu askes yang saya miliki). Dokter pun melihat kondisi gigi saya, dan langsung menuliskan surat rujukan ke rumah sakit yang lebih besar.
Beberapa hari setelah mendapat surat rujukan itu, saya langsung menuju rumah sakit yang tertera pada surat rujukan. Namun karena masih dalam suasana libur lebaran, praktek dokter baru akan dimulai minggu depan. Sesuai jadwal yang diinfokan petugas rumah sakit, saya pun datang kembali ke rumah sakit tersebut. Mendaftar dan menunggu antrian untuk dipanggil. setelah menunggu beberapa saat, saya pun dipanggil. dokter menanyakan keluhan dan mulai memeriksa gigi saya. Tak lupa saya pun menceritakan bahwa salah satu gigi saya pernah di odontec. Lalu saya disarankan untuk foto rontgen, karena foto rontgen saya yang sebelumnya tertinggal di Surabaya jadi saya harus rontgen untuk kedua kalinya.
Pada jadwal kunjungan selanjutnya, dengan membawa hasil rontgen, saya kembali ke rumah sakit tersebut. dan tentunya saya harus ijin magang, karena waktu itu saya masih melaksanakan tugas kuliah kerja profesi (magang), untunglah pihak perusahaan baik memberikan ijin untuk bolak balik kerumah sakit. Sebelum nama saya dipanggil, asisten dokter meminta hasil rontgen saya. Dan saat masuk ke ruang periksa, dokter menjelaskan bahwa gigi bagian atas saya juga impaksi dan kondisi keduanya masi didalam gusi, memang terlihat seperti normal tumbuh kebawah namun jika diperhatikan lagi gigi bungsu tersebut terhalangi oleh gigi geraham yang ada di sampingnya. Sehingga apabila tidak diambil maka kemungkinan akan tumbuh kearah pipi. Lalu dokter memberi pilihan apakah hanya satu gigi yang akan diambil (gigi bungsu bawah) namun harus dirujuk lagi ke rumah sakit lain, karena rumah sakit ini tidak bisa bius lokal. Atau diambil 3 gigi sekaligus dan operasi dilakukan dirumah sakit ini juga, jadi tidak perlu ribet lagi ke rumah sakit lain dan tentunya biar sekaligus gigi yang impaksi diambil biar dikemudian hari tidak bolak-balik. Mendengar hal itu saya langsung mengiyakan untuk 3 gigi bungsu saya diambil. Lalu asisten sang dokter mendaftarkan saya untuk jadwal operasi dan ruangan untuk saya opname. Hasil foto rontgen setelah odontec yang pertama:

Setelah beberapa kali mengalami penundaan jadwal operasi, akhirnya sekitar akhir bulan Agustus 2015 saya dihubungi oleh pihak rumah sakit dan meminta saya untuk datang kerumah sakit. Dengan diantar kakak saya, waktu itu sabtu malam saya kerumah sakit dan dijelaskan bahwa minggu siang operasi saya akan dilaksanakan. Karena pada kunjungan sebelumnya saya sudah melaksanakan cek darah, maka hari itu saya hanya tinggal datang dan menunggu waktu operasi tiba. Alhamdulillah saya mendapatkan fasilitas kelas 1, dengan ruangan yang cukup nyaman. Saat itu ternyata ada pasien lain yang juga memiliki kasus yang sama denganku, odontec. Dan waktu operasinya pun pada hari yang sama pula.
Minggu pagi setelah pukul 6 pagi secara berkala suster mengecek tensi dan juga suhu badan saya. Selain itu saya juga tidak boleh makan dan minum (puasa) sebelum operasi. Sekitar pukul 9 lebih suster membawakan baju ganti untuk operasi dan mulai memasangkan infus ditangan kiri saya. Jujur baru pertama kali itu saya merasakan diinfus (Alhamdulillah sebelumnya saya belum pernah sakit yang terlalu parah dan mengharuskan sampai diinfus). Waktu itu saya merasa ngeri seperti apa diinfus, dengan jarum suntik saja sudah ngeri apa lagi dengan infus. Sekitar pukul 11, dua orang suster masuk ke ruangan saya dan segera membawa saya ke ruang operasi. Dari tempat tidur, terlihat pengunjung rumah sakit menoleh kearahku, entah apa yang ada di benak pikiran mereka melihatku hahaha. Tak lupa saya berdoa di sepanjang lorong rumah sakit sampai masuk ke ruang operasi. Beberapa lama menunggu di ruang tunggu operasi, ada satu ranjang yang di dorong keluar, dan ternyata itu adalah pasien odontec juga. Sedikti deg-deg-an, tapi tidak terlalu takut karena sudah punya pengalaman merasakan odontec sebelumnya, jadi ya santailah..

Sempet ngefoto infusnya nih hehe..
Saat memasuki ruang operasi, dokter sedikit mengajakku ngobrol dan dokter lain menyiapkan peralatan dan mulai memasukkan cairan kedalam infus (terasa sangat sakit sekali ketika cairan itu mulai menyebar ke lengan kiriku), dokter memintaku untuk terus berdoa dan semakin lama mata terasa berat dan nafas juga semakin tak beraturan. Dan saya tertidur….(kayak hipnotis aja). Dan saat itulah operasi 3 gigi bungsu saya dimulai..
Beberapa lama kemudian saya sudah berada di ruang tunggu ruang operasi dan dokter memanggil-manggil nama saya untuk membangunkan saya. Dan langsung memasangkan alat bantu pernafasan ke hidung saya, sedangkan suster merapikan selimut saya karena beberapa saat setelah saya bangun badan saya merasa menggigil dan seperti ada rasa cemas dan takut yang saya rasakan. Saat saya sedikit lebih sadar dan tenang, suster mendorong ranjang saya keluar ruang operasi menuju ruang opname saya. Meskipun belum sepenuhnya sadar namun saat itu saya bisa merasakan ada bekas air mata yang terasa di pipi saya ( mungkin saat operasi berlangsung, secara tidak sadar saya menangis :D ). Malam hari dokter mengunjungi ruangan saya dan membolehkan saya untuk pulang keesokan harinya.
Ini nih dalam sehari 3 gigiku hilang..
Keesokan harinya kakak saya mengurus segala administrasinya, dan petugas administrasi bilang kalau syarat askes saya masih ada yang kurang, yaitu surat masih keterangan kuliah. Mendengar hal itu kakak saya pun kaget karena selama ini segala hal yang mengurus adalah saya sendiri, tapi aku juga tak kalah kaget. Saya mengingat-ingat bahwa saya merasa sudah memenuhi syarat yang disebutkan oleh petugas pada saat saya pertama kali mendaftar. Akhirnya kami harus membayar biaya tersebut terlebih dahulu dengan uang pribadi. Setelah tanya sana sini dan sedikit komplain, akhirnya kami disarankan untuk datang ke BPJS.
Lalu sesuai saran itu, hari berikutnya saya pergi sendiri ke BPJS (karena kakak saya juga harus bekerja) dengan membawa segala hal yang berhubungan dengan administrasi dari rumah sakit. Sampai di BPJS saya mengantri di bagian customer service, menceritakan dari awal sampai akhir. Dan ternyata barulah aku tau kalau syaratku yang kurang adalah surat keterangan masih sekolah (waktu itu saya hanya menyayangkan kenapa tidak dari awal petugas rumah sakit menginfokan bahwa syarat saya kurang, padahal sudah beberapa kali saya bolak balik kerumah sakit itu sebelum hari H operasi (hampir satu bulan), namun tidak diinfokan mengenai kekurangan dari syarat tersebut). akhirnya setelah mendapat penjelasan itu dari pihak BPJS, saya langsung menghubungi teman saya yang ada di Surabaya untuk memintakan surat keterangan masih sekolah dari bagian akademik kampus dan saya juga harus ke kantor taspen untuk meminta salinan slip gaji orang tua. Tanpa menunda-nunda saya langsung pulang ke rumah mengambil kartu anggota taspen dan langsung hari itu juga saya meluncur ke kantor taspen (untunglah dari SMA saya sudah terbiasa ke kantor askes yang sekarang BPJS (dulu waktu SMA saya sendiri yang mengurus membuat kartu askes) dan juga ke kantor taspen). Dan Alhamdulillah teman saya juga gerak cepat.
Pada hari berikutnya surat itu sudah ada dan dengan kecanggihan media sekarang surat itupun dengan cepat sampai ke saya (lewat e-mail). Syarat-syarat pun sudah lengkap, saya pun kembali ke kantor BPJS dan menunggu antrian. Di sela-sela menunggu antrian, saya pun mengobrol dengan pengantri lainnya dan saling bertukar cerita, dan ternyata orang yang saya ajak ngobrol itu satu almamater SMA dengan saya (namun beliau sudah angkatan tua hehehe soalnya beliau adalah angkatan paling awal saat sekolah SMA saya baru didirikan, dari obrolan itu saya jadi lebih tau tentang sejarah SMA saya).
Beberapa lama kemudian nomor antrian saya dipanggil, saya menunjukkan syarat-syarat yang kemarin diminta oleh mbak-mbak petugas ini. Untunglah mbaknya juga masih ingat sama saya (ya iyalah orang aku baru kemaren kesini). Lalu mbak-mbak itu mengutak-atik komputernya dan beberapa saat kemudian menyerahkan selembar kertas yang bisa saya gunakan untuk klaim ke rumah sakit. Setelah dijelaskan oleh petugas itu saya pun langsung meninggalkan kantor BPJS dan segera meluncur ke rumah sakit. Dan Alhamdulillah saya pun langsung dilayani oleh pihak rumah sakit untuk klaim dan saya menunjukkan surat-surat yang diberikan oleh BPJS dan juga saya menyerahkan surat keterangan masih sekolah. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya saya disuruh menuju ke kasir dan Alhamdulillah biaya yang kemarin sudah dibayarkan dikembalikan lagi secara utuh. Jadi saya hanya mengeluarkan uang untuk membayar rontgen (karena rontgen diluar, waktu itu saya rontgen di PA****TA) dan biaya untuk bolak balik kerumah sakit, selebihnya Alhamdulillah ditanggung oleh bpjs. Saya benar-benar bersyukur perjuangan saya beberapa hari ini tidak sia-sia walaupun harus menahan rasa sakit pasca operasi dan beberapa hari harus absen dari magang. Untunglah bengkak di pipi pasca operasi kali ini tidak separah ketika odontec yang pertama. Selama hampir seminggu saya hanya bisa makan sup kentang, bubur, oats, dan sejenisnya.
Seminggu kemudian saya kembali kerumah sakit untuk kontrol dan melepas jahitan, untunglah lukanya dapat menutup dengan baik. Dokter menanyai saya lebih sakit odontec yang pertama (bius lokal) ataukah yang kedua (bius total), sayapun menjawab lebih sakit odontec yang pertama (hal itu karena akibat trauma dari jarum suntik untuk anestesi, sehingga bengkak lebih terasa). Setelah selesai saya pun pulang.
Saya jadi ingat, saat SMA dulu saya sering merasa pusing dikepala bagian belakang, setelah saya membaca beberapa artikel kemungkinan pusing saya ini disebabkan oleh gigi bungsu yang tumbuh. Dan sepertinya itu benar, setelah odontec itu saya sudah jarang bahkan tidak pernah lagi merasakan sakit kepala belang seperti yang saya rasakan saat dulu masih SMA.
Jadi kesimpulannya adalah:
- Ada dua macam/cara odontec:
1.Odontec dengan bius lokal, pasien saat operasi berlangsung masih dalam keadaan sadar. Dan efek setelah operasi (bengkak di pipi yang lumayan sakit dan sedikit besar). Sangat berasa capeknya karena pasien sadar dan harus membuka mulut selama proses operasi.
2.Odontec dengan bius total, pasien saat operasi berlangsung dalam keadaan tidak sadar (dibuat pingsan). Efek setelah operasi tidak terasa begitu sakit dan bengkak pun tidak terlalu kelihatan. Tidak berasa capeknya karena saat operasi pasien tidak sadar.
- Syarat-syarat untuk mendaftar (periksa) dengan askes:
1.Surat rujukan dokter (saya kemarin meminta surat rujukan dokter keluarga saya yang telah ditunjuk oleh askes/bpjs)
2. Fotocopy kartu keluarga
3 3. Fotocopy KTP
4 4. Fotocopy kartu askes si pasien (yang akan berobat)
5. Tambahan: jika pasien masih sekolah/kuliah dan berumur diatas 21 tahun, sebaiknya melampirkan surat keterangan masih kuliah.
Hah benar-benar pengalaman yang sangat-sangat berharga bagi saya pribadi…
Semoga bermanfaat JJ
Nb: mohon maaf jika bahasanya kurang begitu baik, ini hanya berdasarkan pada pengalaman saya pribadi, dan menurut sepengetahuan saya. Dan saya tidak berniat menjelekkan pihak manapun, bagi pembaca saya berharap mengambil hikmah dari cerita saya.
Salam,
Silvia yh
Sumber:
http://klinikjoydental.com/odontectomy-atau-odontektomi/